Menulis untuk Berbicara dan Melawan

Menulis sebenarnya hal yang paling menakutkan bagi saya, bahkan bisa dikatakan fobia nulis. Bagi saya menulis itu yang akan membuat saya dipermalukan orang lain. Entah itu tentang tulisannya yang jelek, tentang bahasanya yang tak mudah dimengerti dan lagi masalah sedikit hasil meskipun diberi waktu yang lama. Apalagi buat mulai menulis, mungkin satu kalimat bahkan satu kata didapatkan dalam waktu dua jam, bisa saja lebih dari itu. Tapi itu semua dulu saya rasakan saat saya masih dibangku sekolah, dari SD, SMP hingga SMA.
Namun saya mulai memahami jati diri saya semenjak saya mulai masuk di perguruan tinggi. Dengan banyak ikut kegiatan organisasi, dengan sering bertemu banyak orang yang mempunyai karakteristik berbeda dan dengan sering jalan – jalan dari tempat A ke tempat lain. Hobi membaca saya pun turut membantu dalam menemukan siapa diri saya yang sebenar-benarnya. Hasilnya sama seperti orang bilang tentag saya, bahwa saya divonis sebagai orang pendiam dan sedikit tertutup. Well, saya pun menyadari hal tersebut. Sempat berpikir bagaimana caranya supaya saya mengubah dari pendiam menjadi orang yang banyak omong, tapi bukan dikatakan cerewet. Setelah dicoba pun hasilnya gak maksimal. Alhasil saya mencoba media untuk berbicara, yaitu menulis.

Menulis, saya coba memulainya baru sekitaran setahun yang lalu, dari mulai menulis cerita keseharian, bisa diakatan diary, menanggapi suatu permasalahan dan lain sebagainya jika saya tak bisa untuk mengungkapkannya secara langsung. Dengan tulisan tersebut saya dapat bebas berekspresi tanpa memandang siapa yang membaca. Entah jika membaca orang tersebut akan marah, akan tersakiti, tersinggung. Toh saya gak secara langsung tau ekspresi mereka.

Pernah suatu ketika saya ikut dalam agenda rapat dalam organisasi saya. Saat rapat tersebut terjadi perdebatan suatu masalah antara si A dengan si B. Ada yang mendukung si A dan banyak yang dukung si B. But, saya hanya bisa melihat, diam dan berusaha bersikap tenang seakan hanya tejadi suatu tanya jawab biasa karena memang saya belum tau akar serta pondasi permasalahan, latar belakang dan dasar teori dari permaslahan. Mungkin orang yang ikut dalam perdebatan itu juga tak tau akan hal-hal tersebut, dan mungkin juga tak mau tau. Hasilnya perdebatan tak jelas yang memakan banyak waktu berujung buntu. Setelah selesai rapat tersebut, saya pulang dan mulai bertanya dan mencari tau sebenernya apa dasar permasalahan tadi. Setelah sendirian berproses lama muter sini muter situ, berlayar di internet, cari solusi, mulai pikiran saya terbuka. Dengan sepengetahuan saya yang baru saja didapat, saya mulai mencari solusinya dan akhirnya dapat. Saya tuangkan semua pengetahuan saya dalam tulisan, saya kasih pendapat saya dan perlawanan saya akan perdebatan tersebut karena saya anggap melenceng dari yang sebenarnya. Saya share tulisan tersebut, berharap tulisan dan pendapat saya ini dapat mencerahkan kebuntuan pikiran mereka.

Itulah sedikit cerita saya yang berkaitan dengan karakteristik sifat dan sikap yang telah saya miliki dan sadari. Mungkin penilaian orang – orang disekitar saya akan setuju jika karakteristik saya diibaratkan dengan Sony VAIO E14P Calm & Independent. Yang menyukai kebebasan, ketenangan dan bersikap mandiri. Because It’s me.

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: